Teknologi BisnisStartup IndonesiaModal asing startup

Terjebak di Tengah: Nasib Start-up Digital Indonesia dan Jerat Modal Asing

Startup digital Indonesia masih sangat bergantung pada modal asing karena investor lokal cenderung konservatif dan enggan mengambil risiko di tahap awal, mengancam kedaulatan inovasi digital.

3 menit baca
26 Februari 2026
Ashari Tech

Kita bicara transformasi digital, tapi kadang lupa akar masalahnya. Start-up Indonesia terus tumbuh, katanya. Tapi coba lihat lebih dekat: banyak yang masih bergantung pada modal asing. Ini bukan lagi rahasia umum, ini fakta lapangan.

Ilustrasi artikel

Startup lokal memang berinovasi. Mereka menciptakan solusi untuk masalah sehari-hari UMKM atau pemerintah. Tapi begitu butuh suntikan dana besar untuk skala, lari ke mana? Kebanyakan ke luar negeri. Investor lokal masih sering main aman, menunggu yang sudah terbukti. Ini dilema klasik.

Kesenjangan Modal dan Mentalitas "Ikut-ikutan"

Masalahnya bukan cuma jumlah uang. Ini soal mentalitas. Investor lokal kita, terutama venture capital (VC) yang lebih besar, kadang terlalu konservatif. Mereka mencari "unicorn" berikutnya, tapi enggan mengambil risiko di tahap awal. Mereka menunggu startup punya traksi kuat, bahkan sudah diakuisisi sebagian oleh pemain global, baru mereka tertarik.

Padahal, seed funding dan pre-seed itu krusial. Di sinilah inovasi sejati diuji. Di sinilah startup butuh dukungan paling awal untuk berkembang dari ide menjadi produk nyata. Kalau di tahap ini sudah sulit, bagaimana mau bersaing dengan raksasa global yang modalnya tidak terbatas?

"Kita bicara kedaulatan digital, tapi dana untuk mewujudkannya justru datang dari luar. Ini ironi yang harus kita hadapi."

Ini juga menciptakan efek domino. Startup yang sudah mendapat suntikan dana asing cenderung lebih mudah mendapat putaran berikutnya dari investor asing lain. Lingkaran ini sulit diputus. Akhirnya, kendali strategis dan arah bisnis startup kita bisa saja bergeser mengikuti kepentingan investor mayoritas. Ini bukan lagi startup lokal, tapi cabang dari entitas global.

Ancaman "Pembajakan" Inovasi

Bukan tidak mungkin, inovasi-inovasi brilian dari anak bangsa justru bisa "dibajak" secara halus. Ketika startup sepenuhnya bergantung pada modal asing, ada risiko bahwa IP (Hak Kekayaan Intelektual) mereka, atau setidaknya arah pengembangan produk, akan ditarik ke ekosistem yang lebih besar di luar Indonesia. Kita jadi konsumen inovasi, bukan pencipta.

Regulasi seperti UU PDP sudah ada, tapi perlindungan data saja tidak cukup. Kita butuh ekosistem pendanaan yang kuat dan berani mengambil risiko. OJK dan pemerintah perlu insentif lebih bagi VC lokal untuk berinvestasi di tahap awal. Mungkin model matching fund atau jaminan risiko bisa jadi solusi.

Ilustrasi artikel

Kita juga harus mendidik investor lokal. Bukan cuma soal untung rugi jangka pendek, tapi juga visi jangka panjang untuk ekonomi digital Indonesia. Kalau kita ingin punya Tokopedia dan Gojek berikutnya, kita harus berani menanam bibitnya sendiri, bukan menunggu buahnya matang lalu ikut memetik.

Sudah saatnya kita berhenti mengagumi startup yang didanai asing dan mulai membangun kemandirian. Kalau tidak, kita hanya akan jadi penonton di rumah sendiri.

Topik

Startup IndonesiaModal asing startupInvestasi VC lokalEkonomi digital IndonesiaInovasi teknologi lokalPendanaan startupKedaulatan digital

Siap Mentransformasi Bisnis Anda dengan Teknologi?

Konsultasikan kebutuhan spesifik bisnis Anda dengan tim ahli kami secara gratis.

Konsultasi Gratis Sekarang*Respon cepat via WhatsApp dalam < 30 menit