Teknologi BisnisAI di tempat kerjaPromosi jabatan AI

Terjebak AI: Promosi Jabatan atau PHK Massal Menanti Karyawan

Accenture mewajibkan staf seniornya mengadopsi _tools_ AI untuk promosi jabatan dan mengancam PHK bagi yang gagal _reskilling_, menunjukkan tekanan nyata AI pada karier.

3 menit baca
26 Februari 2026
Ashari Tech

Dulu, promosi jabatan mungkin butuh koneksi atau kelihaian lobi. Sekarang, di perusahaan konsultan global sekelas Accenture, naik pangkat ternyata butuh AI. Ya, Anda tidak salah dengar. Perusahaan raksasa ini mewajibkan staf seniornya mengadopsi tools AI internal jika ingin mengejar posisi kepemimpinan. Ini bukan sekadar anjuran, tapi syarat wajib.

Ilustrasi artikel

Kebijakan ini menyasar associate director dan senior manager. Bayangkan, Anda sudah bertahun-tahun merintis karier, menguasai seluk-beluk industri, lalu tiba-tiba dihadapkan pada ultimatum: pakai AI atau lupakan promosi. Financial Times melaporkan, adopsi rutin alat AI internal akan menjadi faktor penting. Juru bicara Accenture bahkan mengonfirmasi, strategi mereka adalah menjadi "mitra reinvensi pilihan bagi klien dengan dukungan AI." Ini artinya, jika karyawan tidak update dengan AI, mereka tidak akan bisa melayani klien secara efektif. Sederhana, tapi dampaknya bisa sangat besar.

Lebih dari Sekadar Promosi: Ancaman Nyata PHK

Yang lebih mengerikan, ini bukan hanya soal promosi yang tertahan. Accenture sudah terang-terangan menyatakan pada September lalu: karyawan yang tidak mampu melakukan reskilling di bidang AI berisiko terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Ini bukan lagi ancaman samar-samar, tapi sebuah roadmap yang jelas. Era di mana "AI akan mengambil alih pekerjaan kita" mulai terasa nyata, bukan lagi fiksi ilmiah.

"Penggunaan alat utama kami akan menjadi faktor yang terlihat dalam diskusi talenta."

Ini adalah pernyataan dari email internal Accenture yang bocor. Kalimat ini mungkin terdengar halus, tapi maknanya keras: kinerja Anda akan dinilai dari seberapa mahir Anda memakai AI. Dan jika Anda tidak mahir, karier Anda di sana bisa tamat. Ini bukan hanya berlaku untuk konsultan teknologi. Cepat atau lambat, perusahaan di Indonesia akan mengikuti tren serupa. Jangan kaget jika HRD di perusahaan Anda mulai memasukkan "kemampuan dasar AI" dalam daftar kualifikasi untuk setiap posisi.

Indonesia Siap? Atau Hanya Tertinggal?

Di Indonesia, tren adopsi AI memang sedang melaju kencang. Pemerintah juga gencar mendorong digitalisasi UMKM dan peningkatan SDM. Tapi, apakah SDM kita siap dengan perubahan secepat ini? Apakah kita hanya akan menjadi konsumen teknologi AI, atau juga bisa menjadi produsen dan pengembang yang kompetitif? Kasus Accenture ini adalah lonceng peringatan keras.

Ilustrasi artikel

Jika perusahaan sebesar Accenture saja bisa sekejam itu dengan karyawan seniornya, bagaimana dengan perusahaan lokal yang mungkin memiliki sumber daya reskilling yang lebih terbatas? Tantangannya bukan lagi "mau atau tidak mau" beradaptasi, melainkan "harus atau tersingkir." Kita perlu segera menyiapkan diri, baik dari sisi individu maupun kebijakan, agar tidak hanya menjadi penonton dalam revolusi AI ini. Jika tidak, bukan hanya promosi yang hilang, tapi juga pekerjaan itu sendiri.

Topik

AI di tempat kerjaPromosi jabatan AIReskilling karyawanDampak AI pada karierTransformasi digital IndonesiaAncaman PHK AIAdopsi AI bisnis

Siap Mentransformasi Bisnis Anda dengan Teknologi?

Konsultasikan kebutuhan spesifik bisnis Anda dengan tim ahli kami secara gratis.

Konsultasi Gratis Sekarang*Respon cepat via WhatsApp dalam < 30 menit
Terjebak AI: Promosi Jabatan atau PHK Massal Menanti Karyawan — Ashari Tech