Teknologi BisnisSovereign AI IndonesiaTelkom AI

Telkom dan Ambisi Kedaulatan AI: Siapkah Kita Menjadi Raja di Rumah Sendiri?

Telkom menargetkan pengembangan model AI lokal pada tahun 2028 melalui inisiatif Sovereign AI, yang krusial untuk kedaulatan data dan inovasi teknologi Indonesia.

3 menit baca
3 Maret 2026
Ashari Tech

Pemerintah dan BUMN sepertinya sedang semangat-semangatnya bicara kedaulatan digital. Wajar saja, data adalah emas baru, dan siapa yang pegang data, dia pegang kendali. Nah, yang paling menarik saat ini adalah manuver Telkom dengan inisiatif Sovereign AI-nya. Mereka berambisi punya model AI lokal di tahun 2028. Ini bukan cuma soal teknologi, ini soal harga diri bangsa.

Ilustrasi artikel

Kenapa Sovereign AI Penting?

Mari kita jujur. Selama ini, kita terlalu nyaman pakai layanan AI dari raksasa teknologi asing. Google, OpenAI, Microsoft, semua dari sana. Data kita mengalir ke server mereka. Algoritma mereka yang menentukan apa yang kita lihat, apa yang kita dengar. Kalau begini terus, kita cuma jadi konsumen abadi. Indonesia punya kekayaan data yang luar biasa, dari logistik, transaksi UMKM di Tokopedia atau GoPay, sampai percakapan di WhatsApp Business. Data ini unik, punya konteks lokal yang tidak bisa dipahami sempurna oleh AI buatan Barat.

Sovereign AI artinya kita punya infrastruktur AI, model AI, dan kemampuan talenta AI sendiri. Data lokal diproses oleh AI lokal, disimpan di cloud lokal. Ini krusial untuk keamanan nasional, perlindungan data pribadi (ingat UU PDP!), dan tentu saja, mendorong inovasi yang relevan dengan kebutuhan kita. Bayangkan AI yang bisa memahami dialek daerah, memprediksi tren pasar di toko kelontong, atau membantu petani kecil mengoptimalkan hasil panen.

"Kita harus punya AI yang mengerti bahasa kita, budaya kita, dan masalah kita. Bukan cuma AI yang diterjemahkan."

Tantangan di Depan Mata

Ambisi Telkom ini patut diacungi jempol. Tapi, jalan menuju 2028 itu tidak mulus. Ada beberapa rintangan besar yang harus dilewati:

  1. Talenta: Butuh data scientist, machine learning engineer, dan AI specialist kelas dunia. Jumlahnya di Indonesia masih terbatas. Perlu investasi besar-besaran di pendidikan dan upskilling.
  2. Infrastruktur: Membangun data center dan chip AI yang mumpuni itu mahal dan kompleks. Ini bukan proyek ecek-ecek. Ketersediaan listrik stabil dan bandwidth tinggi juga jadi kunci.
  3. Data Bersih: AI butuh data. Banyak data. Dan yang terpenting, data yang bersih dan terstruktur. Data di Indonesia seringkali masih tersebar, tidak terstandardisasi, dan siloed di berbagai kementerian atau perusahaan. Ini PR besar.
  4. Ekosistem: Sovereign AI tidak bisa berdiri sendiri. Butuh dukungan dari startup, akademisi, dan pemerintah. Telkom harus bisa jadi lokomotif yang merangkul semua pihak, bukan malah jadi pemain tunggal.

Ilustrasi artikel

Lebih dari Sekadar Proyek BUMN

Komang Budi Aryasa dari Telkom menekankan fokus pada pengembangan AI lokal, integrasi solusi digital, dan penyimpanan data nasional. Ini arah yang benar. Tapi, jangan sampai inisiatif ini jadi proyek merah putih semata yang jauh dari kebutuhan pasar. AI yang dikembangkan harus punya nilai komersial, bisa diadopsi UMKM, dan memberikan dampak nyata bagi ekonomi.

Jika Telkom serius, mereka harus bisa menunjukkan roadmap yang jelas, target yang terukur, dan kemitraan strategis dengan pemain global maupun lokal. Jangan sampai 2028 cuma jadi tenggat waktu tanpa hasil konkret. Kedaulatan AI bukan cuma slogan, tapi fondasi masa depan digital Indonesia. Mari kita berharap Telkom bisa benar-benar mewujudkannya, menjadikan Indonesia bukan cuma pengguna, tapi juga pencipta teknologi AI yang berdaulat.

Topik

Sovereign AI IndonesiaTelkom AIKedaulatan DataInovasi AI LokalTeknologi BUMN

Siap Mentransformasi Bisnis Anda dengan Teknologi?

Konsultasikan kebutuhan spesifik bisnis Anda dengan tim ahli kami secara gratis.

Konsultasi Gratis Sekarang*Respon cepat via WhatsApp dalam < 30 menit