Indonesia sedang demam AI. Semua orang bicara tentang potensi, efisiensi, dan masa depan. Tapi, mari kita jujur. Seberapa banyak "AI" yang kita bicarakan itu benar-benar buatan Indonesia? Sebagian besar masih impor, baik itu modelnya, platformnya, atau bahkan filosofinya. Ini masalah besar.
Pemerintah dan raksasa teknologi asing memang gencar berkolaborasi, katanya untuk mendorong adopsi AI di UMKM. Jangan salah, itu bagus. UMKM kita butuh alat bantu. Toko kelontong di sudut jalan, warung makan di pinggir kota, semua bisa untung dengan otomatisasi sederhana atau analitik data penjualan. Tapi kalau semua solusinya dari luar, sampai kapan kita cuma jadi konsumen?

Kedaulatan Data dan Kebangkitan Lokal
Isu kedaulatan digital itu krusial. UU PDP (Perlindungan Data Pribadi) sudah ada, tapi implementasinya harus sejalan dengan pengembangan ekosistem AI lokal. Bayangkan data-data sensitif UMKM kita, pola belanja masyarakat, preferensi lokal, semuanya diolah oleh algoritma yang kita tidak tahu persis cara kerjanya, apalagi siapa pemiliknya. Ini bukan paranoid, ini realitas bisnis.
Ashari Tech melihat ini sebagai peluang emas. Bukan cuma untuk adopsi, tapi untuk kreasi. Kita butuh startup AI yang lahir dari kearifan lokal, yang memahami konteks budaya dan pasar Indonesia. Bukan sekadar menjiplak model Barat dan mengganti bahasanya jadi Bahasa Indonesia. Itu bukan inovasi, itu terjemahan.
Contohnya, GoPay atau Tokopedia. Mereka sukses besar karena paham betul cara orang Indonesia berinteraksi dengan uang dan barang. Mereka tidak serta merta meniru PayPal atau Amazon. Mereka adaptasi, bahkan berinovasi dari nol untuk pasar kita. Pendekatan yang sama harus berlaku untuk AI.

Investasi dan Inkubasi yang Tepat Sasaran
Jadi, apa yang harus kita lakukan? Pertama, investor lokal harus lebih berani mendanai startup AI asli Indonesia. Bukan cuma yang 'mirip' aplikasi populer dari AS. Cari yang punya ide otentik untuk memecahkan masalah lokal. Kedua, pemerintah harus menciptakan kebijakan yang lebih pro-inkubasi startup AI. Bukan cuma regulasi yang membayangi, tapi insentif yang nyata.
Kita harus berhenti jadi pasar AI global dan mulai jadi produsen AI yang relevan.
Kita punya talenta, kita punya pasar, kita punya data. Yang kita butuhkan adalah keberanian untuk tidak hanya mengadopsi, tapi menciptakan. Jangan sampai lima tahun lagi kita masih bergantung pada teknologi AI asing, sementara potensi lokal kita terpendam. Sudah saatnya startup AI lokal jadi raja di negeri sendiri. Itu satu-satunya cara kita benar-benar mengamankan masa depan digital Indonesia.