Pemerintah, lewat Komdigi, dan Indosat baru saja meluncurkan Sahabat AI. Katanya, ini AI khusus untuk masyarakat Indonesia. Pertanyaannya, apakah ini benar-benar inovasi made-in-Indonesia yang kita butuhkan, atau cuma upaya latah mengejar Gemini dan ChatGPT?
Saya cenderung ke yang kedua. Bukan berarti saya pesimis. Tapi, mari kita realistis. Saat ini, adopsi AI di Indonesia memang lagi ngebut. Bank Indonesia pun ikut mendorong talenta digital. Semua serba AI, AI, AI. Tapi Sahabat AI ini, apa bedanya? Indosat bilang, ini platform inklusif yang berbasis nilai lokal. Oke, itu janji manis.

Problemnya, pasar sudah dibanjiri raksasa global. Gemini dan ChatGPT sudah jadi standar. Apa yang bisa ditawarkan Sahabat AI yang tidak bisa mereka lakukan, apalagi dengan sentuhan lokal? Apakah AI ini bisa memahami jokes bapak-bapak, atau memberikan rekomendasi warung tegal terbaik di tiap kecamatan? Jika hanya sebatas chatbot dengan bahasa Indonesia yang lebih fasih, itu bukan game changer. Itu cuma rebranding.
Kita butuh inovasi yang menyelesaikan masalah nyata di Indonesia. Misalnya, AI yang bisa membantu UMKM mengelola stok barang di toko kelontong, menganalisis pola pembelian pelanggan via WhatsApp Business, atau bahkan AI yang mendeteksi penipuan siber yang makin marak. Bicara soal penipuan, ini isu yang jauh lebih mendesak daripada sekadar chatbot lokal.
Ancaman Siber yang Tak Kenal Ampun
Di tengah hiruk-pikuk AI, keamanan siber justru jadi area yang paling sering terabaikan, padahal paling krusial. Karaniya Dharmasaputra dari Indonesia Fintech Society (IFSoc) mencatat, BSSN mendeteksi 4,4 miliar anomali serangan siber hingga September 2025. Angka ini gila! Ini bukan lagi ancaman, ini perang siber yang nyata.
Sektor fintech, khususnya, jadi sasaran empuk. Data pribadi nasabah, transaksi keuangan, semuanya jadi target. Perusahaan fintech tidak bisa lagi cuma mengandalkan pencegahan. Mereka harus membangun daya tahan sistem yang kuat. IFSoc menekankan tiga investasi penting: talenta digital, teknologi, dan literasi nasabah.
"Serangan siber kian ganas, dan fintech wajib berinvestasi di SDM, teknologi, serta literasi nasabah."
Ini bukan soal firewall saja. Ini soal ekosistem. Kita bisa punya AI lokal secanggih apa pun, tapi jika sistem keamanannya rapuh, semua akan sia-sia. Data nasabah bisa bocor, uang bisa raib, kepercayaan publik bisa hancur. UU PDP sudah ada, tapi implementasinya masih perlu banyak diperkuat.

Prioritas yang Salah?
Jadi, ketika Komdigi dan Indosat meluncurkan Sahabat AI, saya bertanya-tanya: Apakah ini prioritas utama? Atau hanya ikut-ikutan tren global tanpa strategi jangka panjang yang jelas? Alih-alih fokus pada chatbot umum, kenapa tidak investasi lebih besar pada AI yang bisa memperkuat keamanan siber? Atau AI yang bisa membantu UMKM bertransformasi digital secara fundamental, bukan sekadar adopsi pembayaran digital yang masih sering terkendala?
Kita perlu AI yang impactful, bukan sekadar gimmick. AI yang bisa melindungi data kita dari 4,4 miliar serangan siber. AI yang bisa membantu jutaan UMKM naik kelas. Jika Sahabat AI bisa ke arah sana, baru itu namanya inovasi yang berdaulat, inklusif, dan berbasis nilai-nilai lokal. Selebihnya? Hanya riuh rendah di tengah keriuhan pasar.