Kita semua tahu AI itu penting. Pemerintah juga tahu. Tapi, ada satu hal yang sering terlewat: talenta. Bukan cuma soal punya server canggih atau cloud di pusat data hijau. Itu cuma kulitnya. Intinya adalah orang-orang yang bisa bikin AI itu jalan, berfungsi, dan relevan untuk Indonesia.

Paradoksnya begini: ambisi digital kita, terutama dengan AI, lagi kenceng-kencengnya. Tapi, fondasinya rapuh. Kesenjangan kompetensi AI di Indonesia ini bukan cuma statistik numpang lewat. Ini bom waktu. Kita mau jadi pemain AI global, tapi ahli rekayasa termal, efisiensi energi, atau tata kelola AI berkelanjutan masih langka. Padahal, ini krusial untuk pusat data hijau, jantungnya infrastruktur digital kita.
"Tanpa intervensi radikal, fondasi infrastruktur digital Indonesia akan terus dibangun di atas pasir."
Coba lihat kurikulum pendidikan kita. Jujur saja, ketinggalan zaman. Materi yang diajarkan di pendidikan vokasi masih jauh dari kebutuhan industri AI. Mahasiswa lulus, tapi skill mereka nggak nyambung dengan apa yang dicari perusahaan yang lagi bangun dan operasikan pusat data atau implementasi AI. Ini bukan salah mahasiswa. Ini salah sistem.
Jurang yang Makin Lebar
Adopsi AI di sektor keuangan, manufaktur, dan logistik memang lagi naik daun. Tokopedia pakai AI buat rekomendasi produk, GoPay pakai AI buat deteksi fraud. Itu bagus. Tapi, siapa yang di belakang layar? Siapa yang develop? Siapa yang maintain? Kalau cuma mengandalkan impor talenta atau solusi siap pakai, kita cuma jadi konsumen, bukan produsen.

Pemerintah dan asosiasi seperti Asosiasi Artificial Intelligence Indonesia (AAII) sudah mulai menyadari ini. Mereka mendorong pelatihan, sertifikasi, dan pengembangan kurikulum yang lebih relevan. Tapi, ini harus masif. Bukan cuma pilot project atau program seadanya. Kita butuh strategi nasional yang komprehensif, dari hulu ke hilir.
Solusi Jangka Panjang
Jadi, apa yang harus dilakukan? Pertama, kurikulum harus direvolusi. Libatkan industri secara aktif dalam perancangan materi. Kedua, investasi besar-besaran di pelatihan dan sertifikasi, bukan cuma untuk fresh graduate, tapi juga reskilling dan upskilling tenaga kerja yang sudah ada. Ketiga, dorong riset dan pengembangan AI lokal. Kita punya banyak masalah unik yang bisa diselesaikan dengan AI buatan sendiri, misalnya untuk UMKM atau pertanian.
Intinya, kalau kita serius dengan AI, kita harus serius dengan orangnya. Bangun talenta, bukan cuma gedung. Kalau tidak, semua ambisi AI kita cuma akan jadi tumpukan server mahal yang tidak terpakai optimal. Dan itu kerugian besar.