Akses internet cepat dan terjangkau di Indonesia itu masih jadi mimpi di siang bolong bagi banyak orang. Terutama di pelosok. Tapi, kolaborasi Surge dan ZTE bisa jadi game changer. Mereka berdua baru saja mengumumkan layanan 5G Fixed Wireless Access (FWA) di frekuensi 1,4 GHz.

Ini bukan sekadar janji manis. Mereka menawarkan internet 100 Mbps hanya Rp 100 ribu per bulan. Bayangkan, 100 Mbps! Itu kecepatan yang bikin iri banyak pengguna internet perkotaan dengan harga jauh lebih mahal. Ini adalah langkah maju yang signifikan untuk pemerataan akses digital di Indonesia. Selama ini, infrastruktur kabel fiber optik seringkali terkendala biaya dan geografis. FWA, dengan mengandalkan sinyal nirkabel 5G, menawarkan solusi yang lebih fleksibel dan cepat untuk diterapkan.
Revolusi Akses Internet Nirkabel
Fixed Wireless Access (FWA) itu intinya begini: internet rumah tanpa kabel yang ditanam di tanah. Jadi, sinyal 5G ditangkap pakai perangkat di rumah, lalu disebar via Wi-Fi. Praktis. Cepat. Dan yang paling penting, bisa menjangkau daerah yang selama ini cuma bisa gigit jari melihat tetangga kota mereka pamer kecepatan internet.
Ini cocok banget buat UMKM di daerah terpencil yang selama ini kesulitan berjualan online atau mengakses informasi. Bayangkan warung kelontong di desa bisa pakai WhatsApp Business untuk order barang, atau petani bisa cek harga komoditas global secara real-time. Ekonomi lokal bisa langsung terangkat. Tokopedia dan GoPay pun bisa lebih mudah diakses, membuka pasar yang lebih luas bagi produk-produk daerah.
"Internet 100 Mbps seharga Rp 100 ribu di pelosok itu bukan cuma soal koneksi, tapi tentang keadilan digital dan potensi ekonomi yang terbuka lebar."
Tantangan Bukan Berarti Mustahil
Tentu, ada tantangan. Regulasi spektrum frekuensi 1,4 GHz itu krusial. Pemerintah harus gerak cepat memastikan ketersediaan dan alokasinya optimal. Kemudian, penetrasi perangkat 5G FWA juga perlu didorong. Tapi dengan harga semurah itu, adopsi harusnya cepat.
Keamanan siber dan kedaulatan data juga tak boleh luput. Ketika semakin banyak data mengalir lewat jaringan ini, perlindungan data pribadi sesuai UU PDP harus jadi prioritas utama. Kolaborasi antara operator seperti Surge, penyedia teknologi seperti ZTE, dan pemerintah itu kuncinya.

Ini bukan cuma tentang teknologi baru. Ini tentang bagaimana teknologi itu bisa menyelesaikan masalah nyata masyarakat. Ini tentang mendorong inklusi digital, mengurangi kesenjangan, dan membuka peluang baru bagi jutaan orang Indonesia. Surge dan ZTE sedang membangun jembatan digital, bukan sekadar menara sinyal. Dan itu patut kita acungi jempol.
Dampak Ekonomi yang Nyata
Internet cepat dan terjangkau akan memicu pertumbuhan ekonomi lokal. UMKM bisa lebih kompetitif, pendidikan di daerah bisa lebih maju dengan akses ke sumber daya daring, dan layanan kesehatan bisa lebih efisien. Ini efek domino positif yang signifikan. Jadi, jangan cuma lihat angka 100 Mbps dan Rp 100 ribu. Lihatlah potensi jutaan rupiah yang bisa berputar di ekonomi lokal, yang tadinya terhambat karena minimnya akses internet. Ini investasi yang akan kembali berkali-kali lipat dalam bentuk kemajuan bangsa.