Lupakan sejenak hype AI dan cloud yang mengawang. Ada berita yang jauh lebih fundamental dan berpotensi mengubah peta kekuatan teknologi Indonesia: kita akan merakit otak sendiri. Ya, enam desain chip made in Indonesia akan segera lahir, hasil kolaborasi Badan Pengelola Investasi Danantara Indonesia (BPI Danantara) dengan raksasa desain chip global, Arm Limited.
Ini bukan sekadar janji politik. Ini adalah langkah konkret menuju kemandirian teknologi yang selama ini cuma jadi wacana. Bayangkan, Indonesia punya intellectual property (IP) chip sendiri. Bukan lagi sekadar pengguna atau perakit, tapi kreator. Ini adalah leapfrog yang sesungguhnya.

Lebih dari Sekadar Perakitan
Selama ini, kita sibuk bicara adopsi teknologi. Impor sana, impor sini. Tapi, seberapa jauh kita bisa mandiri jika semua hardware inti, semua 'otak' di balik perangkat digital kita, bergantung pada negara lain? Kolaborasi dengan Arm ini menjawab pertanyaan krusial itu. Fokusnya tidak hanya pada satu sektor, melainkan mencakup otomotif, Internet of Things (IoT), data center, perangkat rumah tangga, kendaraan otonom, bahkan komputasi kuantum. Ini menunjukkan visi yang ambisius dan terarah.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dengan tepat menyebut teknologi sebagai 'turbocharger' pertumbuhan ekonomi. Dan benar saja, tanpa pondasi teknologi yang kuat, kita akan terus jadi penonton di panggung digital global. Presiden Prabowo Subianto sendiri menyaksikan penandatanganan perjanjian ini di London, menegaskan betapa strategisnya langkah ini bagi ketahanan nasional.
Melatih Otak Lokal, Mengisi Kesenjangan Regulasi
Yang lebih menarik lagi, kerja sama ini juga akan membangun ekosistem pengembangan software capability nasional. Kolaborasi dengan perguruan tinggi papan atas seperti ITB, UGM, dan UI sudah disiapkan. Para talenta muda Indonesia akan dilatih langsung oleh para ahli dari ekosistem Arm. Ini adalah investasi jangka panjang pada sumber daya manusia kita, yang jauh lebih berharga daripada sekadar membeli lisensi.
"Membangun kemampuan desain chip di dalam negeri adalah pertaruhan besar yang akan menentukan nasib digital Indonesia di kancah global."
Namun, ada satu ganjalan besar yang harus segera dibereskan: regulasi perlindungan data. Sementara kita sibuk merancang chip, Lembaga Pengawas Pelindungan Data Pribadi di Indonesia belum juga terbentuk. Ini menciptakan risiko besar dalam transfer data lintas negara. Mau secanggih apapun chip kita, jika data pribadi masyarakat Indonesia tidak terlindungi, itu sama saja bohong. Ini tugas rumah yang harus segera diselesaikan pemerintah, sebelum kita terlalu jauh melangkah.

Masa Depan yang Dibangun Sendiri
Adopsi cloud oleh AWS untuk modernisasi telekomunikasi dan jaringan 5G memang penting untuk infrastruktur. Tapi, tanpa kemampuan untuk mendesain dan suatu hari memproduksi chip sendiri, kita akan selalu berada di posisi tawar yang lemah. Ini bukan cuma tentang gengsi, tapi tentang kedaulatan digital. Indonesia tidak boleh lagi hanya menjadi pasar besar. Kita harus menjadi pemain kunci, dimulai dari 'otak' teknologi itu sendiri. Langkah Danantara dan Arm ini adalah fondasi yang kokoh untuk membangun masa depan itu.