Teknologi BisnisAdopsi AI IndonesiaAI perbankan

Euforia AI di Perbankan dan Manufaktur Hanya Mimpi Manis?

Adopsi AI di sektor perbankan dan manufaktur Indonesia digenjot untuk efisiensi, namun kelangkaan SDM, infrastruktur, dan regulasi keamanan data menjadi tantangan serius.

2 menit baca
27 Februari 2026
Ashari Tech

Gelombang adopsi AI di Indonesia sedang kencang-kencangnya. Semua teriak efisiensi, produktivitas, dan transformasi digital. Terutama di sektor perbankan dan manufaktur, AI disebut-sebut sebagai dewa penyelamat. Tapi tunggu dulu, apakah ini benar-benar revolusi, atau sekadar hype yang manis di bibir para eksekutif?

Ilustrasi artikel

Perbankan, misalnya. Bank-bank besar berlomba mengintegrasikan AI. Mulai dari chatbot yang konon bisa merespons nasabah 24/7, hingga sistem deteksi anomali untuk melawan penipuan. Keren, kan? Di atas kertas, AI memang menjanjikan peningkatan akurasi penilaian kredit dan pengelolaan risiko investasi yang lebih optimal. Banyak bank sudah mengklaim peningkatan efisiensi operasional dan kepuasan nasabah.

Namun, Mari kita lihat lebih dekat. Seberapa jauh chatbot itu benar-benar cerdas? Seringnya, pengalaman saya pribadi, chatbot justru bikin kesal karena tidak bisa memahami konteks sederhana. Ini bukan personalisasi, ini otomatisasi frustrasi. Lalu, soal deteksi penipuan. Apakah AI benar-benar kebal dari false positives yang justru merepotkan nasabah? Regulasi seperti UU PDP juga menjadi momok. Data nasabah itu sensitif. Salah langkah sedikit, bisa jadi bumerang.

"Euforia AI di Indonesia seringkali mengabaikan fondasi kritikal: kesiapan SDM dan infrastruktur yang belum merata."

Sektor manufaktur juga tidak kalah heboh. Otomotif, makanan dan minuman, serta tekstil disebut-sebut paling maju dalam adopsi AI. Mereka bicara tentang otomatisasi produksi, analitik prediktif, dan robotika. Tujuannya jelas: menekan biaya dan meningkatkan kualitas produk di tengah persaingan global. Akses teknologi AI yang semakin mudah dan terjangkau memang menggoda.

Ilustrasi artikel

Tapi di lapangan, realitanya berbeda. Investigasi menunjukkan adopsi AI masih di tahap awal. Banyak yang sekadar ikut-ikutan. Hambatan utamanya? Kelangkaan tenaga ahli AI. Bayangkan, kita mau otomatisasi canggih, tapi siapa yang akan merancang, mengimplementasi, dan memeliharanya? Infrastruktur digital yang tidak merata di berbagai wilayah Indonesia juga memperparah kondisi. Belum lagi ancaman keamanan data dan privasi dalam ekosistem smart factory.

Jadi, apakah mimpi manis otomatisasi ini akan jadi kenyataan, atau hanya ilusi? Tanpa investasi serius pada pengembangan SDM lokal, perbaikan infrastruktur digital, dan kerangka regulasi yang adaptif, AI di Indonesia mungkin hanya akan jadi pajangan mahal. Waktu akan membuktikan, apakah kita siap menghadapi disrupsi nyata, atau justru menjadi korban ambisi teknologi yang tak terukur.

Topik

Adopsi AI IndonesiaAI perbankanAI manufakturTransformasi digital UMKMTantangan AI IndonesiaRegulasi AIKesiapan SDM AI

Siap Mentransformasi Bisnis Anda dengan Teknologi?

Konsultasikan kebutuhan spesifik bisnis Anda dengan tim ahli kami secara gratis.

Konsultasi Gratis Sekarang*Respon cepat via WhatsApp dalam < 30 menit