Adopsi AI di Indonesia bukan lagi narasi masa depan. Ini sudah jadi kenyataan, mendominasi obrolan di segala lini bisnis, dari UMKM hingga raksasa perbankan. Tapi, ada satu fondasi krusial yang sering terlewat: data center. Tanpa infrastruktur yang mumpuni, semua janji manis AI hanya akan jadi omong kosong.

Perbankan, misalnya, sedang gila-gilaan mengintegrasikan AI. Chatbot, deteksi anomali, penilaian kredit, sampai manajemen risiko — semua sudah disentuh AI. Mereka berinvestasi besar. Harapannya jelas: efisiensi operasional dan personalisasi layanan yang lebih baik. Tapi, di balik layar, semua itu butuh daya komputasi yang masif. Dan ini bukan komputasi biasa.
Pergeseran ke GPU
Cloud and IT Director PT Datacomm Diangraha, Benny Sumitro, sudah mengingatkan. Data center di Indonesia "wajib" beralih ke Data Center GPU (Graphics Processing Unit). Kenapa? Karena beban kerja AI sangat berbeda dengan aplikasi tradisional. AI butuh kekuatan pemrosesan paralel yang hanya bisa diberikan GPU. CPU standar tidak akan kuat menanggungnya.
"Peningkatan tren adopsi teknologi digitalisasi turut mendorong permintaan layanan cloud yang menyediakan AI. Hal ini sejalan dengan langkah perusahaan yang semakin banyak memanfaatkan AI dan menggabungkan dengan layanan yang dimiliki perusahaan."
Ini bukan sekadar upgrade minor. Ini transformasi fundamental. Data center harus siap dengan kebutuhan daya dan densitas (kepadatan) yang jauh lebih tinggi. Bayangkan, satu rak server GPU bisa menghabiskan daya yang setara dengan beberapa rak server CPU tradisional. Manajemen panasnya juga jauh lebih kompleks. Jika tidak siap, data center kita akan overheat dan overload.

Tantangan di Depan Mata
Indonesia punya ambisi besar dalam AI. Pemerintah mendukung, perusahaan teknologi global berinvestasi. Tapi, fondasi infrastruktur kita harus bisa mengimbangi. Ketersediaan daya listrik yang stabil, pasokan air untuk pendinginan, hingga lahan yang memadai, semua itu jadi PR besar.
Jangan sampai kita hanya fokus pada aplikasi AI yang canggih, tapi lupa dengan "otak" di baliknya. Jika data center kita tidak berkembang, inovasi AI di perbankan, logistik, atau bahkan UMKM bisa terhambat. Ini bukan hanya masalah teknis, tapi masalah daya saing nasional.
Perusahaan data center di Indonesia harus berani berinvestasi besar. Pemerintah juga perlu memberikan insentif dan regulasi yang mendukung pengembangan infrastruktur ini. Kalau tidak, kita hanya akan jadi konsumen AI, bukan pemain utama. Dan itu akan sangat disayangkan.