Sektor manufaktur Indonesia sedang gandrung AI. Semua bicara efisiensi, produktivitas, dan otomatisasi. Kedengarannya manis, bukan? Namun, jujur saja, euforia ini seringkali menutupi kenyataan di lapangan. Kita masih jauh dari adopsi AI yang merata dan efektif. Ini bukan soal "mau" atau "tidak mau", tapi lebih ke "mampu" atau "tidak mampu".

Otomotif dan Mamin, Sisanya Tertinggal
Laporan Asosiasi Artificial Intelligence Indonesia (AAII) per 27 Februari 2026 jelas menunjukkan bahwa adopsi AI di manufaktur masih sangat timpang. Hanya sektor otomotif, makanan dan minuman (mamin), serta tekstil yang terlihat lebih maju. Ini wajar. Mereka punya modal, infrastruktur, dan mungkin, sedikit lebih banyak talenta. Perusahaan-perusahaan besar di sektor ini bisa invest di analitik prediktif, robotika, dan otomatisasi yang mahal. Tapi bagaimana dengan ribuan pabrik lain di luar itu?
"Kesenjangan ini berpotensi memperlebar jurang kompetitif, bukan meratakannya."
Kita bicara tentang demokratisasi teknologi, tapi nyatanya AI masih jadi barang mewah. Perusahaan yang sudah kuat akan semakin kuat, sementara yang kecil dan menengah akan kesulitan mengejar. Ini berbahaya bagi ekosistem industri kita secara keseluruhan.
Tiga Duri dalam Daging
Ketertarikan pada AI memang didorong oleh janji efisiensi dan peningkatan kualitas. Siapa yang tidak mau produk lebih baik dengan biaya lebih rendah? Tapi janji itu seringkali buyar di hadapan tiga masalah fundamental:
- Kelangkaan Talenta AI: Ini masalah klasik. Kita tidak punya cukup insinyur, ilmuwan data, atau bahkan operator yang paham cara kerja dan implementasi AI. Universitas kita belum bisa mencetak lulusan secepat kebutuhan industri. Akibatnya, perusahaan harus 'membajak' dari tempat lain atau bergantung pada konsultan asing yang mahal.
- Infrastruktur Digital Belum Merata: Jangan bicara AI canggih kalau koneksi internet di pabrik pelosok masih putus-putus. Data adalah bahan bakar AI, dan tanpa infrastruktur yang kuat untuk mengumpulkan, menyimpan, dan memproses data, AI hanya akan jadi pajangan.
- Ancaman Keamanan Data: AI mengumpulkan banyak data sensitif. Mulai dari data operasional pabrik, rantai pasok, hingga data karyawan. Tanpa sistem keamanan siber yang mumpuni, semua data itu jadi santapan empuk peretas. UU PDP memang ada, tapi implementasinya di level industri, terutama untuk AI, masih jadi PR besar.

Ini bukan sekadar hambatan teknis. Ini adalah cerminan dari kurangnya kesiapan ekosistem kita secara menyeluruh. Pemerintah, institusi pendidikan, dan industri harus duduk bersama. Jangan cuma bicara "transformasi digital", tapi juga "fondasi digital" yang kokoh.
Jangan Sampai Jadi Korban Ambisi
Euforia teknologi itu bagus. Dorongan untuk inovasi itu perlu. Tapi kita harus realistis. Implementasi AI di manufaktur Indonesia tidak bisa dilakukan secara serampangan. Tanpa mengatasi masalah talenta, infrastruktur, dan keamanan, kita hanya akan jadi korban ambisi teknologi yang tak terukur. Kita bisa berakhir dengan investasi besar yang tidak memberikan hasil optimal, atau bahkan lebih buruk, menjadi sasaran empuk serangan siber. Mari kita bangun fondasinya dulu, baru bicarakan menara AI yang megah.