Teknologi BisnisUMKM go globalEkspor produk Indonesia

Bisnis Digital Indonesia Jangan Hanya Jago Kandang

Pemerintah Indonesia mendorong UMKM berdigitalisasi, namun artikel ini berpendapat bahwa fokus harus bergeser dari pasar domestik ke pasar global, didukung fintech dan logistik lintas batas.

3 menit baca
5 Maret 2026
Ashari Tech

Percayalah, kita semua sudah bosan mendengar retorika "potensi besar" ekonomi digital Indonesia. Potensinya memang besar, kita tahu itu. Tapi sampai kapan kita cuma berkutat di pasar domestik yang sudah ramai? Saatnya UMKM dan startup Indonesia melirik panggung global. Pemerintah sudah pasang badan, tapi bolanya ada di kita.

Ilustrasi artikel

Peran Pemerintah Bukan Cuma Jaga Kandang

Pemerintah, khususnya Kementerian Koperasi dan UKM, sudah gencar mendorong UMKM untuk go digital. Mereka bahkan berani target 30 juta UMKM terdigitalisasi di tahun 2024. Angka yang ambisius, tapi perlu diingat: digitalisasi itu bukan cuma punya akun Tokopedia atau GoFood. Itu baru langkah awal. Digitalisasi sejati adalah saat UMKM mampu mengoptimalkan teknologi untuk efisiensi, jangkauan pasar, dan daya saing. Sayangnya, masih banyak yang terjebak di tahap dasar.

Program seperti Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI) dan Gerakan Nasional Bangga Berwisata di Indonesia (Gernas BWI) memang bagus untuk menggenjot konsumsi produk lokal. Tapi apakah ini cukup? Jujur saja, tidak. Kita butuh lebih dari sekadar sentimen "cinta produk dalam negeri". Kita butuh kualitas standar global, inovasi yang relevan, dan keberanian untuk bersaing di luar zona nyaman.

Melampaui Batas Negara dengan Fintech dan Logistik

Di sinilah peran fintech dan logistik lintas batas menjadi krusial. Perusahaan seperti Pos Indonesia, yang sedang gencar adopsi AI dan e-commerce, harus jadi ujung tombak. Bayangkan jika UMKM di pelosok bisa dengan mudah menjual produknya ke Malaysia atau Singapura, dengan biaya pengiriman yang bersaing dan pembayaran yang lancar. Ini bukan mimpi lagi. OJK sudah mengatur, Bank Indonesia sudah memfasilitasi, tapi implementasinya masih harus dipercepat.

"Kita harus berhenti berpikir UMKM sebagai entitas lokal saja. Mereka adalah calon eksportir."

Kolaborasi internasional bukan cuma soal investasi masuk. Ini juga soal membuka jalan bagi produk kita keluar. Contohnya, kerja sama antara Kemenkominfo dengan Jepang untuk mengembangkan startup digital. Ini patut diacungi jempol. Jepang punya pasar yang matang dan teknologi maju. Kita punya talenta dan produk unik. Kombinasi yang pas. Tapi jangan berhenti di Jepang saja. ASEAN, Timur Tengah, bahkan Afrika, adalah pasar yang menjanjikan.

Ilustrasi artikel

Tingkatkan Kualitas, Jangan Cuma Kuantitas

Masalahnya, banyak UMKM kita masih berkutat dengan tantangan kualitas dan standarisasi. Produk kerajinan tangan mungkin indah, tapi bagaimana dengan sertifikasi, kemasan, dan kapasitas produksi untuk pasar ekspor? Pelatihan upskilling dan reskilling talenta digital yang digalakkan pemerintah, seperti program beasiswa atau pelatihan AI, harus benar-benar menyentuh aspek ini. Bukan cuma soal coding, tapi juga product management dan market intelligence global.

Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan jumlah UMKM yang terdigitalisasi sebagai metrik keberhasilan. Metrik sebenarnya adalah berapa banyak UMKM yang berhasil menembus pasar internasional, berapa banyak yang produknya diakui kualitasnya di kancah global, dan berapa banyak yang mampu menciptakan lapangan kerja baru dengan bisnis lintas negara. Jika tidak, kita hanya akan jadi penonton di pasar sendiri. Jadi, ayo, UMKM Indonesia, sudah saatnya naik kelas!

Topik

UMKM go globalEkspor produk IndonesiaDigitalisasi UMKMFintech lintas batasLogistik eksporStartup IndonesiaPasar internasionalPemerintah dorong ekspor

Siap Mentransformasi Bisnis Anda dengan Teknologi?

Konsultasikan kebutuhan spesifik bisnis Anda dengan tim ahli kami secara gratis.

Konsultasi Gratis Sekarang*Respon cepat via WhatsApp dalam < 30 menit
Bisnis Digital Indonesia Jangan Hanya Jago Kandang — Ashari Tech