Sudah bukan rahasia lagi kalau bank-bank di Indonesia lagi gila-gilaan adopsi Kecerdasan Buatan (AI). Mereka suntik investasi besar, pasang chatbot canggih, sampai pakai AI buat deteksi penipuan. Semua demi efisiensi dan kepuasan nasabah, katanya. Tapi, di tengah euforia ini, ada satu pertanyaan krusial: bagaimana nasib Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang jadi tulang punggung ekonomi kita?

Bank-bank raksasa memang punya modal buat mainan teknologi mahal. Mereka bisa bangun sistem AI yang personalisasi pengalaman nasabah, optimalkan penilaian kredit, bahkan pangkas biaya operasional. Ini bagus, tentu saja. Perbankan jadi lebih gesit, layanan lebih cepat, dan mungkin, produk keuangan jadi lebih inovatif. Tapi, jangan lupa, mayoritas penduduk Indonesia masih bergantung pada UMKM.
Kesenjangan Digital yang Menganga
AI di perbankan itu seperti mobil mewah. Cepat, canggih, tapi harganya selangit. UMKM kita, jangankan mobil mewah, kadang untuk beli motor operasional saja masih mikir keras. Kesenjangan adopsi teknologi ini makin lebar. Bank pakai AI buat analisis data nasabah, UMKM masih sibuk catat transaksi di buku warung. Ini bukan sekadar beda skala, tapi beda dunia.
"Bank-bank fokus ke AI untuk efisiensi mereka, tapi lupa bahwa ekosistem finansial tidak akan sehat jika UMKM masih tertinggal jauh di belakang."
Pemerintah memang punya inisiatif digitalisasi UMKM. Ada pelatihan, ada program, tapi implementasinya seringkali seperti menabur garam di laut. Kurang terarah, kurang masif. Platform seperti Tokopedia atau GoPay memang membantu, tapi itu baru di level transaksi. Belum menyentuh inti operasional dan pengambilan keputusan yang bisa diubah oleh AI.
Ancaman di Balik Efisiensi
Efisiensi perbankan berkat AI bisa jadi bumerang. Kalau bank makin efisien melayani korporasi besar atau nasabah kaya, sementara akses UMKM ke modal dan layanan finansial tetap susah, ya sama saja bohong. Kredit macet dan praktik pinjaman predatorik yang coba dihindari OJK justru bisa muncul di sektor informal yang tidak terjangkau AI perbankan.

Regulasi juga jadi tantangan. OJK sibuk memperketat aturan main fintech, tapi apakah regulasi ini juga mempertimbangkan bagaimana AI bisa dimanfaatkan untuk inklusi keuangan UMKM? Atau hanya fokus pada perlindungan konsumen kelas atas?
Kita butuh pendekatan yang lebih holistik. AI bukan cuma buat bank besar. Ini harus jadi alat untuk memberdayakan semua. Bayangkan jika AI bisa membantu UMKM mengelola stok, memprediksi penjualan, atau bahkan mengakses pinjaman mikro yang disesuaikan dengan profil risiko mereka. Itu baru revolusi yang sesungguhnya. Kalau tidak, AI di perbankan hanya akan jadi alat untuk memperkaya yang sudah kaya, meninggalkan yang kecil makin tertinggal. Ini bukan masa depan yang kita inginkan untuk Indonesia.