Michael Leonardo

Hai Sahabat Brainy! ๐Ÿ‘‹

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi adanya gangguan magnet Bumi atau geomagnetik lho, sejak Jumat (10/5/2024) sampai Minggu (12/5/2024).

Nah, puncak gangguan geomagnetik ini terjadi pada hari Sabtu (11/5/2024).

Gangguan magnet Bumi ini disebabkan oleh badai Matahari akibat lontaran massa korona Matahari.

Proses Terjadinya Gangguan Magnet Bumi

Jadi gini Sahabat Brainy, berdasarkan laporan dari Pusat Prediksi Cuaca Antariksa AS (NOAA), pada Jumat (10/5/2024), terjadi tujuh lontaran massa korona dari Matahari.

Dampak lontaran ini paling cepat sampai ke Bumi pada Jumat siang dan berlanjut hingga Minggu (12/5/2024).

Ledakan bintik Matahari ini memengaruhi kemagnetan Bumi karena memancarkan gelombang radiasi yang menjalar dari permukaan Matahari sampai ke Bumi. Gelombang radiasi ini disebut lontaran massa korona atau CME.

Ketika CME menghantam medan magnet di sekitar Bumi, partikel bermuatan dalam ejeksi akan dibelokkan oleh lapisan magnetosfer Bumi ke arah garis Kutub Utara dan Selatan.

FYI, magnetosfer Bumi adalah lapisan medan magnet yang menyelubungi Bumi dan melindungi planet kita dari pengaruh radiasi partikel angin Matahari.

Lapisan ini berbentuk seperti lingkaran dengan titik terkuat pada lintang rendah.

Ketika CME mengenai magnetosfer Bumi, dampaknya bisa memicu badai magnet Bumi. Dampak ini paling besar dirasakan di daerah lintang tinggi.

Nah, untuk daerah lintang rendah seperti Indonesia, dampaknya relatif lebih kecil.

Skala Gangguan Magnet Bumi di Indonesia

Jaringan sensor magnet bumi BMKG di seluruh Indonesia mendeteksi badai magnet Bumi dengan skala moderat pada hari Sabtu.

Badai ini berasal dari ledakan bintik matahari mati yang terjadi pada tanggal 7-9 Mei 2024 seperti yang disampaikan oleh NOAA.

Aktivitas di permukaan Matahari ini dapat menyebabkan terlepasnya energi radiasi dalam jumlah besar berupa CME yang dapat mengakibatkan badai magnet Bumi skala kuat atau skala G5.

Sebagai informasi, skala dampak badai magnet Bumi bisa ditakar dengan G1, G2, G3, G4, dan G5. Penjelasannya dapat dilihat melalui tabel di bawah ini:

Skala Dampak
G1 Minor
G2 Moderat
G3 Kuat
G4 Parah
G5 Ekstrem

Berdasarkan hasil monitoring BMKG dari nilai Kp-indeks, peristiwa ini mencapai puncaknya di permukaan Bumi pada pukul 7 UTC, tanggal 11 Mei 2024, dan dapat berlangsung selama tiga hari.

Sebagai informasi, Kp-indeks adalah nilai rata-rata K-indeks dari beberapa wilayah di Indonesia yang menginformasikan tingkat gangguan medan magnet Bumi setiap tiga jam di wilayah Indonesia.

Nilai Kp-indeks maksimum yang tercatat adalah 8. Hal ini mengindikasikan badai magnet bumi dengan tingkat kuat.

Dampak Gangguan Magnet Bumi di Indonesia

Indeks badai KP 8 setara dengan gangguan magnetik sebesar 240 nT yang berdampak langsung pada daerah lintang menengah sampai tinggi.

Kondisi ini mendorong diperlukannya koreksi sistem pembangkit listrik tenaga tinggi untuk wilayah lintang menengah-tinggi.

Selain itu, indeks badai KP 8 juga menyebabkan gangguan pada navigasi satelit dan radio frekuensi rendah.

Dampak lainnya adalah munculnya aurora dengan intensitas rendah yang dilaporkan terlihat di Illinois dan Oregon, AS.

Sementara di wilayah dengan lintang rendah, dampaknya bisa mengganggu jaringan komunikasi berbasis satelit, seperti Starlink. Koneksinya akan sulit tersambung.

Ilustrasi planet Bumi.

Login untuk menambahkan komentar
Klik tombol Google dibawah ini untuk masuk sebagai user

Tambahkan Komentar

Kamu mungkin juga suka